Wanita Buddhis Ajak Hidup Rukun dengan Moderasi Beragama

Hidup rukun bersama akan menciptakan kesejahteraan dalam berbangsa dan bernegara. Salah satunya melalui moderasi agama.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Budha, Caliadi dalam Workshop Moderasi Beragama yang dipublikasikan di kanal YouTube Pemberdayaan Wanita Permabudhi.

Menurut dia moderasi beragama secara langsung maupun telah dilakukan.

"Moderasi agama bukan berarti agama yang dimoderasikan, tapai bagaimana cara beragama yang moderat. Saling memahami satu dengan yang lain," ungkap Caliadi. 

Moderasi, ia melanjutkan, bisa dilakukan dengan cara tidak ekstrem kanan atau kiri dan merasa paling benar.

"Yang perlu diajarkan yakni kita ini beragam. Kita hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita merupakan bangsa yang majemuk sehingga senantiasa saling menghargai dan menghormati. Kita tidak boleh mengklaim menjadi yang terbaik," Caliadi menguraikan.

Senada dengan itu, Ketua Pemberdayaan Wanita Permabudhi Ritha Helena juga menekankan wanita mempunyai peran penting dalam moderasi beragama, dimulai dari individu, keluarga dan masyarakat. 

"Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara yang multikultural dan sangat beragam, sehingga mempersatukan perbedaan ini diperlukan toleransi," ungkap Ritha Helena. 

Sedangkan, ia melanjutkan makna dari toleransi yakni memberi ruang yang tidak mengganggu orang lain untuk berkeyakinan serta menghormati pendapat orang lain.

"Wanita mempunyai potensi besar dalam membangun toleransi. Ada empat komponen pokok emosi wanita," katanya.

Yakni alturisme atau sifat untuk mendahulukan orang lain daripada kepentingan pribadi, kelembutan, dan kasih sayang.

"Berdasarkan sifat di atas maka wanita dapat menjadi aktor utama untuk mencegah kekerasan dan mewujudkan
masyarakat beragama yang toleran," Ritha Helena menjelaskan.

Menurutnya, wanita Buddhis dapat melatih kebijaksanaan, perilaku bermoral, dan disiplin mental seperti yang termuat
dalam Delapan Jalan Kemuliaan.

"Dengan menerapkan 8 jalan kemulian dalam kehidupan sehari–hari maka seseorang akan mampu menghindari kemarahan, fanatisme, ekstrem, juga hedonism dan asketisme," tuturnya.

"Moderasi dalam beragama dapat terwujud dan tercipta kehidupan yang rukun, damai, serta penuh kasih sayang. Itulah jalan untuk mencapai pencerahan," pungkas Helena.

Share Post: